Langsung ke konten utama

Motivasi untuk Diri Kita Sendiri

Kepada diri kita sendiri,

Kesadaran diri atau self-awareness merupakan emotional skill pertama yang harus dimiliki setiap individu. Sejak kecil kita telah diajarkan tentang konsep diri atau label diri. Dari sana kita dapat mengetahui bahwa jenis kelamin kita laki-laki atau perempuan, bagaimana bentuk tubuh, warna kulit, jenis rambut, status sosial kita, dan lain sebagainya. Sebenarnya dari kesadaran akan hal-hal tersebut kita sudah memiliki modal untuk saling menghargai satu sama lain. Kita tidak perlu merasa insecure atau tidak beruntung ketika kita dapat mengatakan "This is me! and i'm proud of it". Bahkan  tidak akan ada pem-bully-an atau hal yang berbau kekerasan lainnya ketika kita dapat memahami bahwa setiap orang memiliki konsep dirinya masing-masing. Apa yang ada pada diri kita adalah untuk dihargai, maka begitupun dengan orang lain.

Explore our Feelings

Menurut CASEL, Self-Awareness ditumbuhkan mulai dari mengidentifikasi emosi. Kita harus mampu mengenali emosi beserta ciri-ciri dan apa yang menyebabkannya. Kita dapat mempelajari emosi berdasarkan pengalaman kemudian mengkesplorasinya. Begitupula kita dapat mengeksplorasi emosi orang lain setelah kita memahami emosi diri sendiri. Mengeksplorasi berarti kita tidak mengabaikan emosi yang tengah terjadi serta reaksi yang ditimbulkannya pada diri. Kita dapat memahami bahwa diri kita adalah orang yang sensitif terhadap hal yang mengharukan saat kita mengekplorasi berbagai emosi di setiap kejadian. Kita mampu memahami emosi yang sama terhadap orang lain ketika kita pernah mengalaminya dan mengeksplorasinya. Berikut ini latihan untuk mengenali, memahami, dan menyayangi diri sendiri menurut Howes

Kenang, hitung dan catat momen-momen membanggakan. Adakah momen-momen yang membuat kita merasa bangga? Ingat-ingat semua momen membanggakan yang kita lakukan untuk diri sendiri, dan catat agar momen tersebut bisa kita “kunjungi” lagi tiap kali ingin melakukan sesuatu yang membuat rasa bangga itu hadir kembali.

Kenali perilaku lama. Banyak dari kita yang terus haus mencari kesempurnaan dan kerap merasa bahwa kita tak membuat dampak apapun untuk mengatasi kesulitan emosional seperti rasa malu dan kesedihan.

Lihat role model kita. Dalam setiap tahapan perkembangan, setiap orang umumnya memiliki role model yang digunakan sebagai contoh untuk berkembang. Sarikan dalam kalimat-kalimat yang mudah diingat, hal-hal apa saja yang diajarkan para role model ini bagi kita. Apakah pelajaran-pelajaran tersebut masih kita sepakati saat ini atau tidak.

Ingat-ingat, hal apa saja yang beresonansi dengan kita. Coba ingat-ingat, buku, film, atau acara televisi apa saja yang beresonansi secara emosional dengan diri kita. Lalu coba lakukan eksplorasi tentang apa saja dari hidup kita yang bisa diidentifikasi dengan hal-hal tersebut secara mendalam.

Minta masukan dari orang-orang yang kita sayang. Mintalah masukan dari teman dan keluarga untuk mengamati, hal-hal apa yang menurut mereka bisa membuat kita bahagia atau tertekan. Tentu saja, tak mudah meminta orang lain memberi masukan. Tapi mereka akan sangat mungkin memberi masukan yang mengejutkan dan amat membantu kita memahami diri sendiri.

Hubungkan diri kita dengan masa muda. Cari kembali foto-foto masa lalu dan coba kenang dan rasakan lagi perasaan yang kita rasakan saat-saat itu. Tanyakan pada kita dalam foto tersebut, apa yang ia pikirkan tentang kita sekarang. Adakah perubahan yang ia ingin kita lakukan dalam hidup?

Pikirkan lagi kebiasaan. “Hal apa yang manjur untuk kita?” Menurut Howes, pertanyaan ini bisa menyuguhkan pada kita kebijaksanaan-kebijaksanaan penting yang bisa membantu kita memahami diri sendiri. Amati, apakah kebiasaan-kebiasaan kita itu produktif atau justru destruktif  dalam perjalanan kita sejauh ini. Kita, misalnya, bisa saja mulai mengamati, apakah jam kerja 70 jam seminggu produktif atau destruktif buat kita. Lalu bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan kita yang lain. Bila kebiasaan-kebiasaan itu membuat kita sengsara, apa yang bisa kita lakukan untuk melakukan perubahan? Dari situ, kita bisa mulai kembali menata diri dan lebih mengenalinya.

Fokus pada hal-hal yang menginspirasi. Howes menyarankan kita untuk bertanya pada diri sendiri, kapan kita merasa bebas dan sangat bersemangat. Bila sudah menemukan jawabannya, kita mulai bisa mengamati, apakah kita telah menjadikan upaya untuk menciptakan momen tersebut sebagai prioritas.

Harapannya adalah kita dapat lebih menyadari tentang diri kita dan mensyukurinya. Kita diciptakan berbeda-beda dan kita harus bangga akan hal itu. Self-Awareness tidak hanya membuat kita bercermin sebelum memahami orang lain namun kita pun akan lebih menjadi pribadi yang percaya diri. Percaya diri berarti kita mampu menghargai diri sendiri, lalu setelahnya kita pun dapat menghargai orang lain.

Dari diri kita sendiri

Daftar Pustaka

 

Greatmind. 2018. Memahami Diri Sendiri. [Online] Greatmind. Available at https://greatmind.id/article/memahami-diri-sendiri [Accesed 6 Oktober 2020]

Marinda, R. 2020. Self-Awareness: Memahami Diri Sendiri Sebelum Orang Lain. [Online] Kompasiana. [Accesed 6 Oktober 2020]

Komentar